KABUPATEN BEKASI ,dailyindonesia.co— Gambar nyata ketimpangan sosial masih terlihat jelas di Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara. Kondisi ini terasa sangat kontras mengingat Kabupaten Bekasi dikenal sebagai kawasan industri terbesar se‑Asia Tenggara, namun masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan ekstrem dan menempati hunian yang jauh dari standar kelayakan.
Pantauan awak media pada Senin (29/6/2026), kawasan bantaran kali tepatnya di Kampung Kebon Kopi RT 01/07, Dusun III, menjadi bukti nyata. Di sini, pemukiman tumbuh padat, lingkungan dipenuhi tumpukan sampah, serta bau saluran limbah yang menyengat menjadi pemandangan sehari‑hari warga yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Menurut penuturan Jaelani, banyak warga berpenghasilan rendah terpaksa mendirikan bangunan di lahan sempit pinggiran sungai. Kondisi ini sangat memprihatinkan, tak hanya karena bangunan yang tidak layak, tetapi juga terancam bahaya longsor. Selain itu, risiko sengketa lahan selalu membayangi, serta kekhawatiran akan tindakan penggusuran serupa yang pernah terjadi di kawasan jalur pintu air PNR.
“Jika dibiarkan, lokasi ini berpotensi menjadi kawasan kumuh yang parah. Desa Karang Asih seharusnya masuk titik fokus utama penanganan permukiman tidak layak di Cikarang Utara, mengingat kepadatan penduduk yang terus meningkat,” ujar Jaelani.
Ia juga menyampaikan bahwa meskipun Pemerintah Kabupaten Bekasi diketahui menjalankan program penanggulangan kemiskinan ,seperti Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dan berbagai bantuan sosial ,kenyataannya masih banyak warga yang belum merasakan manfaatnya secara merata.
Jaelani pun menyampaikan harapan tegas kepada pemerintah daerah: “Kami meminta perhatian lebih besar dan fokus yang nyata agar tidak ada lagi warga Cikarang yang harus tinggal di rumah tidak layak huni. Tercatat angka persentase penduduk miskin di daerah ini masih di level 4,36%, dan ini harus segera diturunkan dengan langkah yang tepat sasaran.”tutup nya.
Sumber: IWO Indonesia












