PEKANBARU, RIAU, dailyindonesia.co — Sorotan tajam terhadap buruknya kinerja dan pelayanan PLN Unit Pelayanan Perawang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, kembali bergulir. Koordinator Nasional LSM KCBI, Luhut Sinaga, kembali melontarkan kecaman keras sekaligus kemarahan mendalam, kali ini menyoroti kasus nyata perilaku oknum petugas yang dinilai sangat tidak profesional, tidak peka, dan melemparkan tanggung jawab pekerjaan kepada pelanggan.
Kasus memilukan itu baru saja terjadi, saat seorang ibu rumah tangga melapor karena aliran listrik di rumahnya padam total. Alih-alih mendapatkan pelayanan yang baik dan tanggap, warga tersebut justru dihadapkan pada sikap petugas yang terkesan emosional dan tidak mau bertanggung jawab.
Berawal dari keheranan petugas karena mengetahui nomor teleponnya tersimpan di kontak suami si ibu, petugas tersebut justru merasa kesal dan meluapkan emosinya kepada pelapor. Bahkan, dengan enteng dan tanpa rasa empati, petugas itu memberikan pernyataan yang sangat menyakiti hati.
“Dengan nada tidak suka, petugas itu berkata kepada ibu tersebut: ‘Kalau ada suaminya di rumah, suruh saja suami Ibu yang mengganti MCB-nya sendiri’,” ungkap Luhut Sinaga menirukan perlakuan petugas yang dinilainya sangat menyedihkan dan tak berperikemanusiaan.
Lebih parah lagi, hingga berita ini diturunkan, petugas yang bersangkutan sama sekali tidak kunjung menampakkan batang hidungnya ke lokasi. Ia hanya memberi instruksi jarak jauh melalui sambungan telepon, meminta warga melakukan pengecekan dan perbaikan sendiri sesuai perintahnya. Padahal, meski sudah dilakukan apa yang diminta, listrik di rumah warga tersebut tetap tidak menyala.
Meski sudah berjanji akan turun langsung memeriksa, petugas itu sama sekali tidak menepati janjinya dan justru bersikap seolah-olah ia adalah atasan yang tidak boleh diganggu atau disalahkan.
Menyikapi perilaku oknum tersebut, Luhut menuntut langkah tegas dari manajemen pusat PLN. Ia menilai sikap petugas tersebut telah mencoreng nama baik institusi dan sangat merugikan masyarakat.
“Saya minta petugas yang bersangkutan segera dipecat. Ia sama sekali tidak memiliki kepekaan sosial dan tidak mengerti makna pelayanan publik. Bagaimana mungkin urusan teknis kelistrikan yang berisiko disuruh dikerjakan sendiri oleh warga? Ini tindakan yang sangat keliru dan tidak bisa dibiarkan,” tegas Luhut dengan nada berapi-api, Sabtu (23/5/2026).
Peristiwa ini kembali menguatkan dugaan bahwa persoalan pemadaman listrik yang terjadi dari tahun ke tahun di Perawang hingga kini belum juga ditemukan akar masalahnya.
“Pertanyaan besar kami masih sama: apakah gangguan ini murni faktor teknis dan alam, atau memang karena ketidakmampuan serta ketidakprofesionalan petugas dan pimpinannya sendiri? Kami belum pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan,” ujarnya.
Luhut kembali menjelaskan, dalam kondisi wajar pemadaman memang bisa terjadi akibat hujan lebat, petir, atau korsleting, di mana PLN memutus arus sementara demi keamanan. Namun kondisi di Perawang sangat berbeda; listrik sering mati mendadak saat cuaca cerah, tidak ada hujan, dan tidak ada petir sama sekali.
“Hal ini sudah terlalu sering terjadi, bukan sekali dua kali. Wajar jika kami berkesimpulan ada yang sangat salah dalam manajemen di sana,” tegasnya.
Oleh karena dianggap gagal total menjawab keluhan publik dan memastikan pelayanan prima, Luhut Sinaga kembali menegaskan tuntutannya agar Kepala PLN Perawang segera dicopot dari jabatannya.
“Ganti pimpinan dengan sosok yang benar-benar profesional, berintegritas, dan berani menjawab fenomena krisis listrik ini. Masyarakat Perawang sudah terlalu lama menderita dan berhak mendapatkan pelayanan yang layak,” pungkas Luhut Sinaga menutup pernyataannya.












