JAKARTA, dailyindonesia.co — Gelaran Armada Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi (JNBA) 2026 menuai sambutan luar biasa dari masyarakat luas. Sejak resmi dilepas pada 9 Juni lalu di Gedung ACLC KPK, dukungan dan antusiasme terus mengalir dari berbagai elemen, mulai pemerintah daerah, komunitas, pelajar, hingga insan media.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menilai respons positif ini menjadi bukti nyata bahwa semangat membangun budaya integritas tidak hanya digerakkan oleh lembaga antirasuah, melainkan telah tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.
“Bagi KPK, pemberantasan korupsi dilakukan secara utuh: melalui penindakan untuk efek jera, penguatan pencegahan di tata kelola pemerintahan, serta pendidikan antikorupsi guna membangun kesadaran dan partisipasi, agar budaya integritas tumbuh dari lingkungan terdekat,” tegas Budi di Jakarta.
Mengusung tema “Dari Timur untuk Indonesia Berintegritas”, JNBA 2026 menghadirkan pendekatan edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Kegiatan telah berlangsung di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 12–15 Juni 2026, dan selanjutnya akan berlanjut ke Nusa Tenggara Timur pada Juli–Agustus mendatang.
Menurut Budi, pemilihan wilayah Indonesia Timur bukan tanpa alasan. Langkah ini merupakan bagian dari misi memperluas jangkauan pendidikan antikorupsi sekaligus memperkuat keterlibatan aktif warga setempat. Semangat yang muncul dari NTB dan NTT diharapkan menjadi energi positif yang menginspirasi daerah lain di tanah air.
“JNBA tahun ini tidak sekadar sosialisasi atau kampanye. Kami hadirkan dialog publik, diseminasi materi, pelibatan komunitas, kolaborasi dengan pemerintah daerah, hingga nonton bareng film antikorupsi, semuanya dirancang agar nilai integritas benar-benar dipahami dan dipraktikkan sehari-hari,” jelasnya.
Tahun ini juga diperkenalkan program unggulan KPK Mengajar, sebuah kegiatan inklusif yang bertujuan menanamkan nilai antikorupsi dan memperkuat karakter integritas pada generasi muda sebagai agen perubahan masa depan.
Budi berharap, semangat yang tumbuh dari wilayah Timur Indonesia dapat terus menular ke seluruh penjuru negeri. Ia menegaskan, budaya antikorupsi yang kuat butuh dukungan semua pihak, yang bisa dimulai dari langkah sederhana: jujur, disiplin, bertanggung jawab, berani menolak segala bentuk penyimpangan, dan menjadi teladan di lingkungan masing-masing.












