CILACAP, dailyindonesia.co — Selama ini Pulau Nusakambangan kerap dicap sebagai tempat yang terisolir, dingin, angker, dan menyimpan berbagai kisah kelam di benak masyarakat. Namun, citra itu berhasil dipatahkan sepenuhnya setelah Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) melakukan kunjungan resmi sekaligus misi kemanusiaan ke lembaga pemasyarakatan tersebut pada Rabu, 20 Mei 2026.
Dipimpin langsung oleh Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, rombongan melaksanakan audiensi, silaturahmi, serta pengecekan langsung kondisi warga binaan. Kunjungan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah nyata untuk membawa secercah harapan dan kepastian bagi keluarga yang menuntut keadilan.
Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan tiba di Lapas Kelas II Narkotika Nusakambangan dan disambut secara terbuka serta hangat oleh Kepala Lapas Andi Mulyadi beserta jajarannya. Dalam pertemuan yang berlangsung hingga pukul 10.00 WIB itu, Wilson didampingi Wakil Ketua II Ujang Kosasih, S.H., Wakil Sekretaris Jenderal Julian Caisar, dan pengurus pusat lainnya. Sementara dari pihak lapas turut hadir Kepala Seksi Bimbingan Narapidana Dwi beserta staf.
Pembahasan berjalan lancar dan konstruktif. Kedua pihak bertukar informasi mengenai sistem pembinaan warga binaan. PPWI juga mengusulkan kerja sama strategis agar informasi seputar pemasyarakatan dapat disampaikan ke publik secara terbuka dan mendidik. Kedua belah pihak menyatakan antusiasme untuk mempererat hubungan di masa mendatang.
.Mendampingi Korban Kriminalisasi
Momen paling berkesan dalam kunjungan ini adalah pendampingan terhadap keluarga Jekson Sihombing, warga binaan yang diyakini luas sebagai korban kriminalisasi sistemik di Provinsi Riau. Jekson dipenjara lantaran keberaniannya mengungkap dugaan kerusakan hutan dan praktik korupsi yang melibatkan PT Ciliandra Perkasa di bawah naungan Surya Dumai Group.
Diduga, pembungkaman terhadap Jekson dilakukan melalui kerja sama tak sehat antara pengusaha dan oknum penegak hukum saat itu, termasuk mantan Kapolda Riau serta mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Riau. Ia sempat divonis 6 tahun penjara, sebelum akhirnya dikurangi menjadi 3 tahun di tingkat banding.
Dalam kesempatan itu, PPWI mendampingi tiga generasi keluarga Jekson: ibunda kandung Relly Pasaribu, nenek Tiur Simamora, dan adik perempuannya Arnadeyanti Sihombing. Kehadiran PPWI menjadi tameng moral dan hukum yang memberikan kekuatan bagi mereka untuk menemui Jekson setelah sekian lama diliputi rasa cemas.
. Tata Kelola Modern dan Manusiawi
Pihak lapas juga meluruskan persepsi keliru yang berkembang di masyarakat. Saat ini, terdapat 12 lembaga pemasyarakatan di Nusakambangan yang dikelompokkan dalam empat tingkatan pengamanan: Sangat Maksimum, Maksimum, Menengah, dan Reguler.
Pengelompokan ini bukan untuk menyiksa, melainkan sebagai sistem penilaian perubahan perilaku. Setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk dipindahkan ke lapas dengan tingkat pengamanan lebih ringan jika menunjukkan kepatuhan dan kemajuan positif. Sebaliknya, pelanggaran disiplin akan membuatnya ditempatkan di pengamanan yang lebih ketat.
.Kondisi Jekson Sehat dan Tetap Berprinsip
Kebahagiaan terasa saat keluarga diizinkan bertemu langsung dengan Jekson. Berdasarkan pengamatan tim PPWI dan pengakuan keluarga, Jekson berada dalam kondisi fisik yang sehat dan mental yang tetap tangguh. Jeruji besi tidak mampu melemahkan semangatnya.
Dalam pertemuan itu, Jekson menceritakan secara terbuka mengenai kesehariannya dan perlakuan yang diterima. Ia menegaskan mendapatkan hak-haknya dengan baik dan diperlakukan secara manusiawi. Kabar ini seketika menghapus kekhawatiran yang selama ini menghantui pikiran keluarga.
Selain itu, kunjungan ini juga meninggalkan pengalaman unik. Rombongan diberangkatkan menggunakan kapal resmi milik Kemenkumham, sedangkan saat pulang diantar dengan mobil ambulans dan menumpang kapal nelayan tradisional menuju Cilacap. Sebagai bentuk apresiasi, PPWI menyerahkan piagam penghargaan kepada Kalapas Andi Mulyadi atas kepemimpinannya yang profesional dan terbuka.
. Kesimpulan
Wilson Lalengke menegaskan, berdasarkan pengamatan langsung, Nusakambangan kini telah bertransformasi. Lingkungannya bersih, tertata rapi, dan dikelola dengan prinsip pemasyarakatan yang menjunjung harkat martabat manusia.
“Mitos bahwa Nusakambangan adalah tempat yang kejam sudah tidak berlaku lagi. Hari ini kami buktikan sendiri, dan keluarga pun mendapatkan kepastian yang sangat berharga,” tutupnya.












