Trenggalek, dailyindonesia.co – Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang mengalami lonjakan signifikan pada tahun ini. Kepala Dinas Kesehatan Trenggalek, Sunarto, menyatakan bahwa kasus DBD di kabupaten ini telah mencapai 817 kasus per 7 Oktober 2024. Angka tersebut menunjukkan peningkatan drastis dibandingkan dengan tahun 2023, yang mencatat hanya 129 kasus.
“Peningkatan ini diduga sebagai dampak dari siklus lima tahunan,” ujar Sunarto pada Kamis (7/10). Pihaknya menegaskan, Dinas Kesehatan kini memaksimalkan langkah pencegahan dengan menggalakkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kampanye 3M Plus: menguras, menutup, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air. Selain itu, Dinkes juga menebarkan abate di tempat rawan perkembangbiakan nyamuk, memasukkan ikan ke kolam-kolam untuk memangsa jentik nyamuk, dan mengimbau masyarakat untuk menggunakan lotion antinyamuk.
Langkah-langkah pencegahan juga didukung dengan upaya lintas sektor, mulai dari pengaktifan juru pemantau jentik hingga penyediaan obat-obatan dan perbekalan kesehatan untuk pasien DBD di berbagai fasilitas kesehatan, baik di tingkat primer maupun rujukan. “Fogging juga dilakukan secara selektif untuk menekan penyebaran penyakit,” tambahnya.
Sunarto mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal DBD, seperti demam yang naik-turun dalam minggu pertama, mual, muntah, serta munculnya perdarahan pada kulit, hidung, gusi, atau selaput lendir. Berdasarkan data, kelompok usia 15-44 tahun menjadi yang paling terdampak dengan 47 persen dari total kasus, disusul usia 5-14 tahun sebanyak 30,5 persen, usia di atas 44 tahun sebanyak 17,4 persen, dan sisanya pada kelompok usia lain. Meski terjadi peningkatan kasus, hingga saat ini tidak ada pasien yang meninggal dunia.













