Blitar,dailyindonesia.co – Mujiono atau akrab dipanggil Monot, Ketua Umum Organisasi Masyarakat GPN Kabupaten Blitar memberikan tanggapan atas pemberitaan salah satu media online,Kemis (9/7/2026) yang menyebut adanya dugaan “garda preman” di lingkungan sekolah.
Dalam keterangannya kepada awak media, ia menilai pemberitaan tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kami menyikapi adanya pemberitaan yang menyebut Garda sebagai preman. Menurut kami, hal itu tidak benar. Kami juga memiliki anak yang bersekolah di SMA, sehingga kepedulian kami semata-mata agar lingkungan sekolah tetap aman, nyaman, dan kondusif,” ujarnya.
Ia juga membantah adanya isu mengenai pemberian uang sebesar Rp5 juta kepada pihak tertentu sebagaimana yang beredar dalam pemberitaan.
“Informasi mengenai adanya gaji atau uang Rp5 juta itu tidak benar,” tegasnya.
Selain itu, Ketua GPN Kabupaten Blitar berharap insan pers selalu mengedepankan prinsip jurnalistik dengan melakukan konfirmasi kepada seluruh pihak yang berkaitan sebelum menerbitkan sebuah berita.
“Kami berharap rekan-rekan wartawan, terutama yang datang dari luar daerah, dapat berkomunikasi dan melakukan konfirmasi terlebih dahulu apabila memperoleh informasi di Kabupaten Blitar. Dengan begitu, pemberitaan menjadi berimbang dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat,” katanya.
Menurutnya, hingga saat ini pihak yang menyampaikan tudingan tersebut belum melakukan konfirmasi kepada kepala sekolah, guru, maupun pihak Garda yang disebut dalam pemberitaan.
“Kami sangat menyayangkan apabila suatu informasi dipublikasikan tanpa terlebih dahulu meminta keterangan dari pihak-pihak yang diberitakan. Kami berharap ke depan semua pihak dapat mengedepankan etika jurnalistik serta asas keberimbangan agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.
Hal senada juga disampaikan Sunarto anggota tim Garda, Narto, membantah pemberitaan yang menyebut adanya dugaan kelompok preman yang menerima uang hingga Rp5 juta setiap bulan dari sekolah.
Saat dimintai konfirmasi, Narto menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak benar dan tidak pernah terjadi.
“Itu tidak benar, Pak. Kami bekerja dan ikut dalam tim Garda karena kepedulian hati nurani terhadap dunia pendidikan. Anak saya juga sekolah di SMA, sehingga kami ingin lingkungan pendidikan berjalan dengan baik dan nyaman,” ujar Sunarto.
Menurutnya, keikutsertaan dalam tim Garda bukan didasari kepentingan mencari keuntungan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan agar proses belajar mengajar berlangsung dengan aman dan kondusif.
Sunarto juga secara tegas membantah isu mengenai adanya penerimaan uang sebesar Rp5 juta setiap bulan sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan.
“Soal omongan menerima Rp5 juta per bulan itu sama sekali tidak benar,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan mengedepankan asas praduga tak bersalah terhadap pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan.(Vol)












