Oleh: Hibbul Hadi (Bang Hibbul), Pemerhati Sepak Bola Banyuwangi (11/1/2026)
Banyuwangi|Persewangi gagal melangkah jauh di babak 32 besar Liga 4 Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026. Gagal di Batu. Gugur sebelum bicara banyak. Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: siapa yang paling pantas disalahkan?
Jawabannya bukan pemain. Bukan juga pelatih.
Kalau mau jujur dan menarik benang ke belakang, masalah klasik Persewangi dari dulu sebenarnya cuma satu: uang. Dulu, pemain tidak digaji. Katering sering macet. Mess tidak layak huni. Semua serba kekurangan. Tapi anehnya, dengan kondisi seburuk itu, Persewangi masih bisa lolos ke putaran nasional.
Sekarang? Kondisinya jungkir balik.
Persewangi hari ini jauh dari kata miskin. Coba saja lihat media sosial resminya. Lapangan latihan khusus ada. Mess bagus. Tim pelatih lengkap—mulai kit man, pelatih fisik, pelatih kiper, asisten pelatih, sampai masseur. Bahkan tim bisa pemusatan latihan di Jogja dan Bali. Itu bukan murah. Itu mahal.
Bandingkan dengan era Persewangi FC 2017 di Liga 2. Saat itu, tim ini nyaris hidup dari keajaiban. Hanya ada tiga orang:
HW yang merangkap semua urusan manajemen,
Bagong yang merangkap seluruh tugas kepelatihan,
dan Pak Man (Sulaiman) yang jadi apa saja—asisten, kit man, sampai tukang angkut.
Latihan? Jangan bayangkan TC. Paling banter pemain diajak berenang di Kolam Pancoran, Rogojampi.
Tapi hasilnya? Lolos nasional.
Dari perbandingan ini, seharusnya kita sudah bisa membaca masalahnya. Kegagalan Persewangi hari ini bukan soal kualitas pemain atau pelatih. Ini soal manajemen.
Kesalahan Persewangi tidak terjadi di Batu. Kesalahan itu sudah dimulai sejak awal: dari cara tim ini disusun. Dari keputusan memilih pelatih. Dari menyetujui belanja pemain. Dari program yang dibuat tanpa arah jelas.
Mengelola Persewangi bukan seperti membuka kafe. Bukan soal urus izin, bangun tempat, branding, lalu menunjuk pekerja sesuka hati. Persewangi adalah aset sosial. Milik masyarakat Banyuwangi. Setiap langkahnya diawasi, dibicarakan, dan dinilai.
Persewangi itu sakral.
Dulu, saat saya masih cawe-cawe di dalamnya, prinsipnya sederhana: yang penting pemain makan, punya tempat tidur meski seadanya—kepuntal-puntal tidak apa-apa. Tapi ada rasa memiliki. Ada pengabdian. Dan hasilnya nyata.
Sekarang, pemain sudah dilayani dengan sangat baik. Tapi masuk 16 besar saja gagal.
Ironisnya, beberapa pemain yang dianggap “tidak efektif” dan tidak diperpanjang kontraknya—seperti Rahmat Latif dan kawan-kawan—justru tampil baik di Banyumas. Lalu yang salah siapa?
Persewangi pernah susah makan, susah tidur, dan susah gajian. Tapi tetap berprestasi. Jadi jangan berlindung di balik istilah “manajemen profesional” kalau hasilnya justru mundur.
Kita semua tahu mana yang datang untuk berjuang, dan mana yang sekadar bekerja. Mana yang mengabdi, dan mana yang hanya menjalankan proyek.
Sudah waktunya Persewangi kembali ke akarnya.
Kembali ke Banyuwangi.













